Selasa, 01 April 2008

sinetron pilihan

Sebuah kosakata baru yang menjadi terkenal seiring dengan perkembangan pertelevisian di Indonesia. Di awal munculnya TV swasta sinetron telah menjadi primadona sebagai salah satu sarana hiburan yang murah meriah. Demam sinetron sangat cepat menjalar kesegala lapisan masy. Karena faktor kemudahan akses dan biaya yang sangat minim. Tanpa harus membayar sejumlah uang dan tanpa harus pergi ketempat khusus masy. Bisa dengan mudah menikmati tontonan yang menghibur ini. Daya pikat sinetron tidak hanya pada akses untuk dapat menikmati sinetron tapi juga ada pada alur ceritanya, perkembangannya alur cerita sinetron dibuat dengan cermat oleh sineas2nya dengan sangat “pandai” untuk menimbulkan rasa penasaran masy. Yang secara tidak langsung menimbulkan rasa ketergantungan masy. Untuk mengikuti episode-episode selanjutnya dan tabu hukumnya untuk dilewatkan

Bukannya anti terhadap sinetron, tapi bwat gw sinetron Cuma tontonan sampah yang gak ada gunanya , dari cerita-cerita sinetron yang ada mungkin kita gak sadar sudah berapa banyak pengaruh buruk sinetron meracuni masy. Dari cerita anak kecil yang sudah mengenal pacaran, kekejaman ibu tiri atau perebutan harta warisan yang menyebabkan sesama saudara bisa saling bunuh. Tema-tema hampir 90% menghiasi layar kaca TV kita.dan yang bikin lebih menarik napas lagi tontonan gak mendidik itu bisa dengan mudah dikonsumsi oleh anak2 kecil yang sebenarnya gak tauw apa2 dan lebih konyolnya lagi mereka menonton sinetron ditemani oleh orang tua mereka yang menganggap sinetron ma sholat sama hukumnya fardu ain.

Tren sinetron 4 tahun belakangan ini adalah sinetron yang tayang tiap hari atau bahasa kerennya striping. Satu pertanyaan mengusik sinetron striping yang syutingnya tiap hari dmana hari ini syuting lusa udah muncul di TV trus proses sensorisasi kapan…..??, apa gak ada orang yang peduli sama hal kaya gitu….??,


Yang tertawa dan bahagia tentunya para produser sinetron yang tentunya meraup rupiah yang tidak sedikit jumlahnya.. dan mereka sangat bangga dengan hal ini. Gw pernah denger satu statement dari salah satu produser sinetron yang dengan bangganya mengatakan “tontonan lokal telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri”. Sekilas emang gak ada yang salah sama statement diatas karena emang kalo dirating emang sinetron gak ada yang bisa ngalahin dibanding tontonan lain yang ada pa lagi yang dari tontonan luar negeri. Tapi apa cuma dengan menjadi “tuan rumah di negeri sendiri” kita sudah puas…???, trus dmana letak edukasi dari sebuah tontonan….??, bukannya tema sinetron sekarang banyak yang menjiplak tema-tema tanyangan di luar negeri seperti teledrama dari Taiwan, korea dan jepang trus ama telenovela yang sempat berjaya dulu. Apa itu bisa dibilang suatu kebanggan bwat kita..???,bisa membuat suatu tontonan yang 100% materi local dengan tema “nyolong” bisa menjadi tontonan yang sangat menghibur dan menjadi no.1. Cuma orang bego aja yang bilang iya hehehehehehe………

Apa kita juga sudah cukup bangga dengan menjadikan tontonan lokal telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri…??, walau isi dari tontonan tersebut tidak memberi pembelajaran yang positif hanya efek hiburan saja. Pertanyaan selanjutnya apa memang masy. Kita sudah terbiasa dengan tontonan sinetron yang hanya cukup dengan “bisa menghibur” tanpa ada demans untuk sebuah totonan sinetron yang selain bisa menghibur tapi juga bisa memberi edukasi tentang nilai-nilai moral, agama dan kesusilaan. Menurut gw masy. Kita tidak sedangkal itu, masy masih menginginkan tontonan yang bisa menghibur dan mendidik contohnya sinetron2 seperti, “si doel anak sekolahan”, “keluarga cemara” juga mendapatkan rating yang cukup tinggi, justru para menurut gw para produser saja yang terlalu tamak dan merasa kewajiban memberikan tontonan sintetron yang mendidik bukan sepenuhnya tanggung jawab mereka

Terakhir gw Cuma berharap pemerintah mau pay attention terhadap kualitas tontonan di TV, sudah sharusnya adegan anak kecil yang berusaha mencelakai temannya cuma gara-gara rebutan cowok atau ibu tiri yang menghukum anaknya dengan kejam sdikit di perhalus supaya ada nilai-nilai luhur yang bisa tersampaikan kpada masy.. tadi nonton heilen nyus di Metro TV berita tentang keinginan wapres Jusuf Kalla agar KPI memberi penghargaan pada tanyangan2 TV yang tidak layak tontonan. Menurut gw itu ide bagus banget, sebuah sindiran yang tepat untuk para produser2 yang tidak mengidahkan himbauan pemerintah yang menginginkan lebih banyak tanyangan2 yang lebih edukatif

Tapi bukan bukan kita gak bisa diem diri ngeliat pembodohan masy. Ini ada KPI( Komisi Penyiaran Indonesia). Disitu kita bisa bikin pengaduan tentang tanyangan2 kaya sinetron diatas

Lt IV
Jl gajah mada no 8
Jakarta 10120
Tlpn : 021-63440113
Fax : 021-63440667,6340167
www.kpi.go.id