Kamis, 07 Februari 2008

Vandalisme jiwa muda….

Vandalisme diambil dua 2 kata yaitu vandals dan isme dari sisi bahasa vandals dapat diartikan sebagai sebuah tindakan yang disengaja untuk merusak, menghancurkan dan menghilangkan fasilitas publik dan isme dapat diartikan sebagai suatu aliran pemikiran yang berkembang dimasyarakat….

Salah satu bukti konkrit aksi vandalisme di kota Djodja ini adalah banyaknya tembok-tembok polos yang dihiasi dengan coretan-coretan tangan tak bertanggung jawab dan juga banyaknya rambu2 lalu lintas atau nama petunjuk jalan yang hilang disebabkan oleh aksi vandalis-vandalis muda tersebut. Sebagai orang yang pernah mengalami masa muda saya dulu juga juga sempat mengalami masa dimana corat-coret itu adalah hal terkeren yang pernah saya lakukan………………..

Aksi vandalisme saat ini seolah telah menjadi suatu tradisi di masy. Khusus golongan muda, mungkin sebagai sarana pembuktian diri. Mungkin mereka berpikir dengan “meninggalkan jejak” mereka di tempat dmana semua orang bisa melihat orang-orang akan berpikir bahwa mereka itu hebat, jagoan dan terutama mereka ingin menunjukan bahwa mereka exsist…., padahal kalo saja sejenak mereka mau berpikir sebenarnya apa yang mereka lakukan itu tidak membuat mereka dianggap hebat oleh orang-orang yang melihat hasil “karya” mereka justru sebaliknya orang akan melihat itu sebagai tindakan tercela dan tidak bertanggung jawab

Dulu saya sempat bangga dengan pemkot yang menyalurkan bakat2 anak muda untuk menyalurkan bakat seni mereka. Tembok-tembok polos yang dulu menjadi pelampisan aksi vandalisme sekarang tidak polos lagi sebuah lukisan mural yang tentu lebih indah dipandang mata menghiasi sudut-sudut tembok di kota Djodja ini. Kebijakan mengizinkan tembok-tembok polos yang ada untuk dijadikan kanvas lukisan mural merupakan hal yang patut dipuji, lukisan dengan tema-tema social tersebut selain dapat mempercantik kota juga dapat digunakan sebagai sarana iklan social. Kalo saya amati lagi tembok-tembok yang sudah ada lukisan muralnya jadi jarang tersentuh oleh aksi vandalis-vandalis muda tersebut. Saya mengunakan isitilah “jarang” karena tidak semua karya muralis itu tidak tersentuh aksi vandalisme ada saja anak-anak muda yang skala vandalisme sudah sampai stadium 4 sehingga nekat aja tembok bagus itu mereka corat-coret tanpa rasa bersalah sama skali. Tapi setidaknya aksi corat-coret sudah berkurang karena mungkin mereka kehabisan kanvas untuk menyalurkan hobby mereka itu..

Kehabisan kanvas…….???, mungkin pernyataan tersebut salah

Karena pelaku vandalisme itu kbanyakan adalah anak mudah dan yang namanya anak muda itu terkenal dengan banyak akalnya maka sesuai dengan pepatah bijak “tak ada akar rotan pun jadi”. Dan mereka saat ini telah mendapatkan kanvas baru namanya ‘halte bus trandjodja” dan alasan itu yang mengusik rasa keprihatinan saya terhadap aksi vandalisme. Sewaktu melintas di depan mandala krida dan dekat JEC suatu pemandangan menyedihkan halte bus yang belum diresmikan penggunaannya sudah secara tidak resmi dengan coretan dan beberapa kaca yang pecah….

Satu pertanyaan muncul sbegitu rendahkah moral mereka…….???, suatu sarana tranportasi modern yang saya kira sangat dibutuhkan oleh kota yang mulai metropolitan ini seharusnya kita hargai dan pelihara tetapi sayangnya mereka belum berpikir sejauh itu. Mungkin mereka hanya menganggap halte bus transjogja sebagai wahana baru pembuktian diri dan hasilnya coretan dmana-mana sebagian kaca pecah dan entah apa lagi yang akan mereka lakukan

Bukannya saya tidak memahami pola mikir jiwa-jiwa muda yang kehilangan arah itu karena dulu pun saya juga pernah menjadi bagian dari vandalis-vandalis tersebut. Suatu perbuatan yang saya anggap tersebut tindakan yang hebat dengan mengambil rambu-rambu lalu lintas yang baru saja dipasang di jl. Kaliurang hehehhehe.. tolol memang….!!, dari sudut pandang saya pada saat itu hal tersebut outstanding banget tetapi seiring berjalannya kedewasaan pemahaman akan pentingnya tanggung jawab terhadap masy. Tumbuh. Menjalani peran sebagai mahluk sosial mulai mengambil peran sebagai mahluk individu

Sebagai seseorang yang sedikit concern terhadap permasalahan vandalisme ini saya hanya bisa menghimbau untuk remaja2 yang terjebak fanatisme sempit terhadap kelompoknya atau menurut bahasa mereka “geng”

Salah satu solusi mengatasi aksi vandalisme adalah dengan mengajarkan tanggung jawab sosial sejak dini, waktu saya melintas di depan TK Syuhada saya melihat mereka diajarkan untuk mulai menanam pohon dan setiap murid diberi tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan pohon tersebut. Ada hal lain lagi contoh mengajarkan tanggung jawab sosial terhadap kaum muda seperti yang dicontoh sebagian anggota pramuka suatu SMU swasta yang melakukan baksos dengan membersihkan sampah yang berserakan di skitar sekolah mereka…..

Memberikan rasa memiliki terhadap kota Djodja merupakan suatu yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait untuk mengurangi aksi vandalisme yang semakin hari semakin mencemaskan. Bukan dengan hukuman atau larangan karena itu hal tersebut justru akan menambah keyakinan para vandalis muda tersebut bahwa mereka bukan anggota dari masyarakat… dengan pendekatan yang lebih halus secara perlahan kita bisa memupuk kesadaran dan rasa memiliki terhadap fasilitas-fasilitas publik yang ada dan tentunya tidak akan ada orang yang mau merusak barangnya sendiri bukan……???

stop doing vandals will ya…..!!

Tidak ada komentar: